Ok

By continuing your visit to this site, you accept the use of cookies. These ensure the smooth running of our services. Learn more.

Books - Page 3

  • Menulis Karangan Untuk PERS

    Untuk rekan-rekan dan masyarakat umum yang ingin menjadi wartawan modal dasarnya saya ingin memberi masukan ilmu kepada rekan-rekan semua yang datang mengunjungi weblog saya ini.
     
    Disamping itu saya juga ingin mengkritik kepada bapak-bapak wartawan di Nabire yaitu koran harian Lokal Papua Pos Nabire. Saya sangat kesal dengan tulisan mereka beberapa berita yang diturunkan tidak layak untuk dimuat. Barangkali ini merupakan kisi-kisi untuk kita senua. Susah loh untuk mendapat ilmu gratis seperti saya tulis di blog saya. Ini juga saya belajar dan informasi serta dapat buku dari orang yang sayta cintai tapi telah meninggal mendahului saya. Semoga dia di terima sisi Kanan Tuhan Yang Maha Esa. Jika anda ingin mau baca selengkapnya silahkan dowload beritanya berokuty ini menulis_karangan_untuk_pers.pdf
     
    Doma JAD 

  • Nasib Anak Bodoh dan Tidak Jenius Indonesia

    Bukan cerita baru tetapi sudah menjadi cerita lama yang telah mendarah daging setiap insan manusia yang hidup dibumi atau jagad raya yang penuh dengan duka dan derita hidup ini terutama lagi manusia yang hidup di Indonesia.

    Banyak lembaga maupun perusahaan yang sangat peduli terhadap kemajuan baik secara individual maupun secara kelompok yang sangat peduli terhadap pendidikan, yang secara serius diperhatikan oleh lembaga-lembaga kepada seseorang karena pintar dan jenius, namun ada banyak anak bangsa yang tidak diperhatikan oleh bangsa ini terutama dari lembaga-lembaga yang sangat peduli terhadap perkembangan dunia pendidikan di Indonesia dengan alasan karena bodoh dan tidak jenius ! Maka dibenak kecil saya berkata bahwa didalam pengambilan keputusan seperti ini terjadi pengelompokan dan blok-blok, saya tidak mengerti untuk membangun daerah ini juga harus diblok atau atas nama Bangsa Indonesia artinya blok ini, blok itu sementara dalam pengumpulan dana atau pemberian dana dari para donator terutama dari Negara kaya di khususkan untuk bangsa Indonesia dalam pengembangan dan perkembangan di Bidang Pendidikan Bangsa Indonesia secara umum. Di pihak lain ada pulau atau daerah lain menjadi korban dan obyek. Selengkapnya download aja dibawah dari info ini
    Penutup dari beberapa kata kritis diatas ini yang merupakan Saran dan Solusi adalah Rombak dan Tata Ulang secara keseluruhan Dasar Negara RI “ Pancasila “ itu. Rombak dari Sila pertama hingga Sila ke Lima karena saya berpikir sudah waktunya Dasar Neraga tidak berlaku. Contoh Kasus “Jika Mr. A, mendirikan rumah diatas lumpur apa kuat dan bertahan ? Bukan berarti negara Indonesia negara lumpur. Alasannya contoh kecil saja dari Sila Pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, disana–sini banyak adanya pembakaran Gereja, disuruh urus persyaratan ini, itu malah dilarang mendirikan tempat ibadah terutama gereja. Saran saya Tak perlu adanya lintas agama segala, hanya boros waktu, ada banyak pekerjaan penting yang harus dilakukan. Bangsa Indonesia punya Dasar Negara dan mempunyai UUD 1945 sebagai perpanjangan tangan dari Dasar Negara tersebut jika kita patuhi dan laksanakan saya pikir Indonesia jauh lebih bagus dari kemarin-kemarin. Jangan hanya UUD 1945 saja yang dirombak, semua dong termasuk Dasar Negara, karena permasalahan bangsa Indonesia hadapi sekarang ini karena dasar bangsa Indonesia yang sudah keropos alias aus. Ataukah pemimpin kita sekarang ini tidak sejalan dengan pemikir dan pelopor Kemerdekaan terutama yang membuat dan menyusun Dasar Negara “Pancasila” dan “UUD 1945” sehingga perjalanan bangsa Indonesia selalu menghadapi masalah ini, masalah itu yang tiap hari tak henti-hentinya ada terus. Sila Kedua yang bunyinya “ Kemanusiaan Yang Adil dan Beradad, diluar negeri melihat bangsa Indonesia adalah orang beradab yang dinyatakan dengan sopan santun, ramah kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa hanya ada baku bunuh-membunuh dari anak ke orangtuanya dari istri ke suami, dari anak ke ibunya, dari kakaknya ke adiknya atau sebaliknya, bom ini, bom itu, bapak perkosa anak cewenya / anak tirinya, anak perkosa ibu kandungnya / ibu tirinya, pembunuhan ini, pembunuhan itu. Dan masih banyak masalah lain dengan Sila Kedua ini. Sila ketiga “Persatuan ”. Jika sudah bersatu, saya pikir secara bersama jatuh bangun membangun Bangsa dari keterpurukan yang kian menjadi-jadi sudah sejahtera damai, aman, Makmur. Dan Sila ke-empat bunyinya “ Kerakyatan Yang dipimpin oleh hihmat Kebijaksaan dalam permusyawatan / Perwakilan “. Yang saya ikuti Anggota Dewan yang dipilih pada Pemilu yang lalu ini hanya aduh argumentasi, aduh jotos saja tidak pernah memberikan solusi yang terbaik bagi masyarakat yang memilihnya. Serta Sila kelima “ Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat . Maaf disini saya mau mengangkat masalah Papua. Kurang lebih 40 tahun Pada Bangsa Papua bergabung dengan Indonesia dilakukan secara paksa untuk mengindonesiakan Bangsa Papua menjadi Bangsa Indonesia, giliran Bangsa Papua meminta untuk mau jadi bangsa Indonesia dengan cara meminta bantuan ini, bantuan ini dari Lembaga maupun secara perorangan, fasilitas ini, fasilitas itu, kepada Pemerintah Pusat selalu dijawab minta ke Pemda tingkat satu. Barangkali bangsa Kelas II di Bingkai Negara Kesatuan Republik ( NKRI ). Jangan di daerah di dekat saja sekitar wilayah Metropolitan banyak terjadi pergusuran, kumuh-kumuh masyarakat yang tak berdaya, ini yang namanya keadilan sosial, koreksi saja setiap insan manusia Indonesia yang katanya manusia beradab.
    Saya tahu suatu bangsa tidak mungkin tidak punya masalah, tapi masalah bangsa kita Indonesia ini sepertinya penyakit turunan yang tidak pernah ada habis-habisnya. Banyak pakar-pakar ekonomi, politik dan IPTEK yang tidak pernah memberikan saran maupun solusi terhadap permasalahan bangsa ini. Saya hanya pertanyakan kepakaran mereka ini, yang ada hanya adu argumen yang menghabiskan uang Negara dengan rapat ini, rapat itu.
    Untuk itu saran segera mungkin merombak Dasar Negara Indonesia PANCASILA” karena tidak berlaku di Indonesia. Tidak pas dan tidak layak untuk dipertahankan.
    Indonesia mempunyai nama aliasnya misalnya Negara demokrasi, negara hukum, Negara kepulauan, Negara sedang berkembang sebutan yang telah ada dari dulu, Negara Islam Terbesar Dunia, Negara KKN. Sementara pada pelaksanaannya tidak demikian.
    Selengkapnya jika mau baca silahkan download aja yang berikut ini nasib_anak_bodoh_dan_kurang_jenius_indonesia.pdf
    jiak ad
  • Papua - En.wikipedia

    Papua (Indonesian province)

    From Wikipedia, the free encyclopedia.


    Map showing Papua province in Indonesia

    Papua is a province of Indonesia comprising part of the western half of the island of New Guinea and nearby islands (see also Western New Guinea).

    The name Papua may also refer to either the entire island of New Guinea or to the southern half of the neighboring country of Papua New Guinea. The name West Papua is preferred among nationalists who hope to separate from Indonesia and form their own country (the region was promised a referendum on independence from the Netherlands). The province was known as West Irian or Irian Barat from 1969 to 1973Irian is the Indonesian term for the island of New Guinea. It was then renamed Irian Jaya (roughly translated, "Victorious Irian") by Suharto, a name that remained in official use until 2002. During the colonial era the region was known as Dutch New Guinea or Netherlands New Guinea.

    The province originally covered the entire western half of New Guinea, but in 2003, the western portion of the province, on the Bird's Head Peninsula, was made a separate province named West Irian Jaya.

     

    Netherlands New Guinea

    From Wikipedia, the free encyclopedia.

    Netherlands New Guinea was the official name of western New Guinea while it was a colonial possession of the Netherlands. It was commonly known as Dutch New Guinea. It is now a province of Indonesia known as Papua.

    From 1898 to 1949 Dutch New Guinea was governed as part of the Dutch East Indies.

    In 1949, when the rest of the Dutch East Indies became fully independent as Indonesia, the Dutch retained sovereignty over western New Guinea, and took steps to prepare it for independence as a separate country. Some five thousand teachers were flown there. The Dutch put an emphasis upon political, business, and civic skills. The first local naval cadets graduated in 1955 and the first army brigade become operational in 1956.

    Elections were held across Dutch New Guinea in 1959 and an elected council officially took office on April 5, 1961, to prepare for full independence by the end of that decade. The Dutch endorsed the council's selection of a new national anthem and the Morning Star as the new national flag on December 1, 1961.

    Indonesia invaded the region on December 18, 1961. After an armed conflict the territory was placed under United Nations administration in October 1962 before being transferred to Indonesia in May 1963. The territory was formally annexed by Indonesia in 1969 after a controversial plebiscite was conducted by the Indonesian military.

    See also: Papua (Indonesian province); Western New Guinea

    JIAK 

    Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Papua_(Indonesian_province)

  • Kumpulan masalah Papua

    Beberapa kumpulan Masalah mengenai Papua yang dirangkum di dalam beberapa surat kabar, namun saya dari Koran Tempo belum aku masukin karena waktu membuat saya lagian kekuarangan dana untuk membiayai update berita jadi minta maaf yang se dalam-dalam hingga 1000 km meter. ingin mau baca silahkan download ada ok kumpulan_masalah_papua.doc .

     Masih ada lagi yang berhubungan dengan maslah Papua download aja Mang jika anda tidak mau ketinggalan berita perkembangan Papua august_6_and_the_barbarians_of_the_dark_ages_papua.doc

     Barangkali anda tidak bosan untuk membaca dan mengklik kesana - kesini ok bos dagggggg<<<<<<<<<<:::::::::....

    JIAK 

     

  • Cinta Tak Bersyarat

    Saya akan menurunkan Berita yang bercerita tentang LOVE YOUR SELF"
     
    Kapankah seseorang mulai mencintai atau membenci dirinya sendirinya ? Jawabannya adalah "mulai dari masa kecilnya". Ketika seorang anak dilahirkan, ia begitu baik, menarik dan berharga, butuh kasih sayang, bagai sebuah permata.
     
    Namun pada saat lahir, sibayi tidak mengetahui apapun tentang dirinya. Ia tidak tahu apakah dirinya baik atau buruk, pantas dicintai atau dibenci, diahrgai atau tidak. Selain itu dalam hubungannya dengan orang lain, ia tidak tahu apakah lebih baik atau lebih buruk, lebih unggul atau lebih rendah. Ia tidak tahu apakah ia memiliki harga diri atau tidak. Bagaimana prosesnya sehingga akhirnya ia mampu mengenali diri sendiri, dan membentuk konsep diri ? Bagaimana caranya ia menemukan identitas dirinya ? Bagaimanan mengetahui dirinya berharga atau tidak ?
     
    Baru setelah terjalin hubungan antar pribadi, ia bisa mengenal, mencintai, atau membenci dirinya sendiri. Yang pertama kali tenti kedua orangtuanya. Mereka biasanya menjadi pengaruh uatama dalam pencarian identitas diri, dan juga dalam pembentukan konsep dirinya. Pengaruh lain adalah saudara, laki-laki maupun perempuan, bibi, teman, kakek, nenek, lengkungan sekitarnya, televisi, pastor, imam, ulama, serta semua orang lain yang dijumpanya. Namun dalam kenyataanya penulis buku ini melihat dan mengamati bahwa orangtualah yang lebih berperan dalam pembentukan kepribadian.
     
    Selnjutnya akan dilanjutkan dengan bagian-bagianny sebagai berikut :
    1. Cinta Orangtua
    2. Cinta Bersyarat
    3. Menguasai Secara Halus
    4. Sebuah Permata 
     
    Akan bersambung ..................,
     
    Jack Dogomo 

  • Renungkan Deh.....

    Nice words lahhhh...

    Bukan berat Beban yang membuat kita Stress, tetapi lamanya kita memikul beban tersebut.

     

    Stephen Covey

     

    Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Stephen Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: "Seberapa berat menurut anda kira segelas air ini?" Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr. "Ini bukanlah masalah berat absolutnya,tapi tergantung berapa lama anda memegangnya." kata Covey.

     

    "Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat."

     

    "Jika kita! membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey. "Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi". Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi.

     

    Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada dipundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi.

     

    Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya...!! Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di relung hati kita.

     

    Start the day with smile and have a good day.......