Ok

By continuing your visit to this site, you accept the use of cookies. These ensure the smooth running of our services. Learn more.

  • AS Tak Dukung Upaya Pemisahan Papua Dari RI

    Sabtu, 30 Juli 2005 - 10:56 AM

    New York, Amerika Serikat (AS)tidak akan mendukung setiap upaya yang mencoba memisahkan Papua dari Republik Indonesia.

    Pernyataan Deplu AS yang disiarkan dari Washington DC, Jumat (29/7), itu sebagai tanggapan atas munculnya selebaran yang konon berasal dari seorang senator AS yang mempertanyakan keabsahan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969 yang menegaskan kepada dunia bahwa Papua merupakan wilayah NKRI.

    Menurut Deplu AS, berkaitan dengan masalah separatisme di Indonesia, AS tetap mendukung integritas teritorial wilayah Negara Kesatuan RI (NKRI).

    "AS tidak mendukung ataupun memaafkan setiap upaya mempromosikan pemisahan Papua dari RI," tulis pernyataan yang disampaikan juru bicara Deplu AS Sean McCormack.

    AS, katanya, yakin bahwa pelaksanaan reformasi politik dan ekonomi berupa diberlakukannya Otonomi Khusus bagi Papua dengan tetap dalam NKRI merupakan kunci untuk menjawab berbagai persoalan, termasuk masalah HAM.

    Pembicaraan di AS berkaitan dengan masalah Papua kembali muncul baru-baru ini setelah adanya Rancangan Undang-Undang (RUU) 2601 yang memuat masalah Papua.

    RUU itu sendiri telah disetujui Kongres AS beberapa hari lalu dengan perbandingan suara 315 versus 78.

    Termasuk di dalam RUU itu (section 1115) adanya kewajiban menteri luar negeri AS untuk melapor kepada Kongres tentang efektivitas otonomi khusus Papua dan keabsahan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969.

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sedang berada di China juga memperingatkan pihak-pihak di AS untuk tidak campur tangan pada masalah dalam negeri Indonesia, khususnya yang menyangkut soal Papua sehubungan adanya bahan tertulis yang mempertanyakan Pepera di Papua tahun 1969.

    Yudhoyono mengaku telah membaca salinan bahan tertulis dari apa yang telah dirumuskan oleh Kongres AS yang mempertanyakan Pepera.

    Presiden berharap hal itu tidak mengganggu hubungan RI-AS karena ketika dirinya berkunjung di Washington DC Mei lalu, AS juga sudah menegaskan dukungannya terhadap keutuhan wilayah Indonesia, termasuk di dalamnya soal Aceh dan Papua.

    Mengenai Aceh, Deplu AS dalam pernyataan Jumat (29/7) kembali menyatakan dukungan upaya perdamaian yang dilakukan pemerintah RI dengan kelompok separatis GAM.

    AS menunggu pelaksanaan perjanjian damai tersebut setelah MoU ditandatangani kedua belah pihak paling lambat 15 Agustus mendatang.

    (sumber: media indonesia)

  • Cinta Tak Bersyarat

    Saya akan menurunkan Berita yang bercerita tentang LOVE YOUR SELF"
     
    Kapankah seseorang mulai mencintai atau membenci dirinya sendirinya ? Jawabannya adalah "mulai dari masa kecilnya". Ketika seorang anak dilahirkan, ia begitu baik, menarik dan berharga, butuh kasih sayang, bagai sebuah permata.
     
    Namun pada saat lahir, sibayi tidak mengetahui apapun tentang dirinya. Ia tidak tahu apakah dirinya baik atau buruk, pantas dicintai atau dibenci, diahrgai atau tidak. Selain itu dalam hubungannya dengan orang lain, ia tidak tahu apakah lebih baik atau lebih buruk, lebih unggul atau lebih rendah. Ia tidak tahu apakah ia memiliki harga diri atau tidak. Bagaimana prosesnya sehingga akhirnya ia mampu mengenali diri sendiri, dan membentuk konsep diri ? Bagaimana caranya ia menemukan identitas dirinya ? Bagaimanan mengetahui dirinya berharga atau tidak ?
     
    Baru setelah terjalin hubungan antar pribadi, ia bisa mengenal, mencintai, atau membenci dirinya sendiri. Yang pertama kali tenti kedua orangtuanya. Mereka biasanya menjadi pengaruh uatama dalam pencarian identitas diri, dan juga dalam pembentukan konsep dirinya. Pengaruh lain adalah saudara, laki-laki maupun perempuan, bibi, teman, kakek, nenek, lengkungan sekitarnya, televisi, pastor, imam, ulama, serta semua orang lain yang dijumpanya. Namun dalam kenyataanya penulis buku ini melihat dan mengamati bahwa orangtualah yang lebih berperan dalam pembentukan kepribadian.
     
    Selnjutnya akan dilanjutkan dengan bagian-bagianny sebagai berikut :
    1. Cinta Orangtua
    2. Cinta Bersyarat
    3. Menguasai Secara Halus
    4. Sebuah Permata 
     
    Akan bersambung ..................,
     
    Jack Dogomo 

  • Mampukah EKonomi Kerakyatan Kabupaten Nabire - Papua di Dobrak ?

    Baru beberapa hari yang lalu secara resmi di tutup SIdang RAPBD. Berarti secara logika manusia dapat dipikir bahwa masyarakat Kabupaten Nabire sedang menantikan Pembangunan. Bukan omong kosong belaka, bukan ucapan di bibir, sekarang masyarakat sedang menantikan realitanya.

    Sementara itu sehabis SIdang RAPBD ditutup para pejabat Teras Kabupaten Nabire menyerbu Ibukota Negera, ada apa dibalik itu menjadi tanda tanya, untuk apa , buat apa, dan kepentingan untuk siapa ? Para pejabat Kabupaten Nabire - Papua rame-rame ke Jakarta ? Kita tunggu informasi secara akurat setelah ada pertemuan dengan para pejabat dari Kabupaten Nabire - Papua pada waktu yang akan datang.

    Doma Jack

  • Percumakah Dana APBD untuk Nabire - Papua

    Setelah selesai melaksanakan Sidang APBD Kabupaten Nabire Tahun 2005/2006 para Pejabat Teras Kabupaten Nabire masih berkeliaran di Jakarta tanpa alasan yang jelas. Setelah saya melakukan koordinasi dengan seseorang yang merupakan informan di Nabire memberitahukan bahwa semua pajabat baik DPRD, Bupati Bappeda (penyusun program, Penyusun ANggaraan) dan lain sebagainya sedang berada di Jakarta dan akan kembali ke Nabire - Papua tidak sempat diutarakan oleh Informan di Nabire.

    Bagaimana dengan pendapat saudara sekalian terutama bagi para pelajar dan mahasiswa yang sedang berada di luar Papua terutama bagi saudara sekalian yang yang sedang membutuhkan uluran tangan dari Pemda Kabupaten Nabire.

     Silhkan tangkapan saudara kami sangat butuhkan, bagi yang melihat dan megunjungi sitsu ini.

    Jack Dogomo 

     

  • Indonesian General Received Cash Payments

    Associated Press
    Indonesian General Received Cash Payments
    07.25.2005, 07:29 AM

    An international watchdog group claimed Monday that the local unit of an American gold-mining company appeared to have paid an Indonesian general accused of rights abuses almost US$250,000 (euro206,000) to protect its mine.

    A spokesman in Jakarta for PT Freeport Indonesia, a unit of New Orleans-based Freeport McMoRan Co., denied the accusation made by in a report by Global Witness, a London-based group that monitors natural resource use and human rights.

    The spokesman, Siddharta Moersjid, said the company provided support for transport and logistics for Indonesian forces guarding its mine in remote Papua province, but denied paying officers directly.

    A military spokesman also denied officers received money directly from Freeport.

    In a report called "Paying for Protection," Global Witness said it appeared that PT Freeport Indonesia had paid large sums of money directly to individual military and police officers, not to the Indonesian government or military institutions.

    "This should be a red flag in a country like Indonesia," said Diarmid O'Sullivan, a campaigner for the group. "The real troubling question is where did the money go?"

    O'Sullivan declined to reveal the source of the allegations, a practice he said was customary for Global Witness, which describes itself on its Web site as working to "highlight the link between the exploitation of natural resources and human rights abuses." But he said the organization "was completely confident" in them.

    The report names former Papua military chief Gen. Mahidin Simbolon as apparently receiving US$247,705 (euro205,000) between 2001 and 2003 in payments for unspecified humanitarian projects, military celebrations and for "security services."

    Rights groups have accused Simbolon of abuses when he was a commander in Indonesia's former province of East Timor in 1999, where soldiers and militiamen are alleged to have committed crimes against humanity that included at least 1,200 murders.

    Indonesian troops in Papua have been accused of rights abuses in putting down a simmering separatist rebellion. In 2002, rogue soldiers were accused of involvement in ambush close to the mine that killed two American school teachers.

    Freeport's practices in Papua have concerned some of its shareholders, who fear that the company may be liable at home if soldiers on the company's payroll are found guilty of human rights abuses.

    Freeport-McMoran's Grasberg mine in Papua is one of the world's largest gold and copper mines. For the first six months of 2005, the company posted earnings of US$305.6 million (euro252 million) .

    Moersjid, the Freeport spokesman, said it was "not true" the company paid officers directly, including to Simbolon.

    "We are providing support for logistics and transport and the like, but we are not paying them directly," he said.

    An Indonesian military spokesman acknowledged that troops received money if "they were sick or things like that" but that no senior officers received funds directly.

    Other foreign companies exploiting Indonesia's natural resources have also been accused of paying army units to protect them, including U.S. energy giant ExxonMobil Corp, which taps natural gas fields in Aceh province.

    "The military needs money, and companies need security for their plants," said Rusdi Marpaung, a nongovernmental group focusing on human rights in Aceh. "It is a kind of corrupt symbiosis."

  • Pejabat Kab. Nabire Kebanjiran di Jakarta

    Setelah penutupan Sidang RAPBD Kabupaten Nabire Tahun Ajaran 2005/2006 Pejabat Teras Pemda Kabupaten Nabire berkeanjiran di Jakarta ? Kedatangan pejabat ini untuk mengurusi apa, selanjutnya apa yang diberikan kepada masyarakat di Nabire masih tanya ?

    Kedatangan mereka ini hanya menghabiskan uang rakyat yang baru selesai penutupan SIdang RAPBD. Beberapa mahasiswa sempat mendatangi ke tempat hotel mereka mengingat tapi hasil nihil.

    Untuk sementara ini saja yang lapor semoga saudara tidak bosan untuk membaca  dan mengunjungi di situs ini.

     

    Jack Dogomo